Home Suara News

Ramadhan, ekspresi  dan tujuannya

159
0

Ramadhan – Satu bulan penuh umat islam merayakan pendidikan jasmani dan ruhani  dengan puasa. Tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan nafsu agar tidak terjerumus dan celaka. Puasa merupakan kegiatan jasmani,  bertujuan membersihkan ruhani yang muaranya menjadi hamba muttaqin.

Tarawih berjamaah, buka bersama, ngabuburit, berburu ta’jil, malam nuzulul qur’an, malam lailatul qodar, mudik dan hari raya. itu bagian dari momen yang memberikan kesan dan kebahagiaan tersendiri yang hanya ada di bulan ramadhan.

Diawal-awal ramadhan tiba, ekspresi umat islam begitu terlihat, dengan sukacita mereka melaksanakan shalat malam. Meski dengan jumlah rakaat yang berbeda, hal tersebut sebagai tanda kekayaan khazanah islam.

Baca Juga:   Akan terima Bintang Tanda Jasa dari Jepang, Wakil Ketua MPR : Penghargaan ini berkat Jasa Presiden SBY, dan masyarakat Indonesia

Barisan terisi penuh dihampir setiap masjid, itu terjadi biasanya antara kurun hari pertama sampai hari ke tujuh. Selebihnya mulai berkurang dan menyusut. Hingga beralih pada keramaian lain dipusat-pusat perbelanjaan.

Tapi keramaian di pusat belanaja  tidak terjadi secara merata. Dibeberapa tempat kehadiran jamaah tarawih terlihat full penuh sepanjang malam ramadhan.

Itu semua bagian dari expresi rasa senang dan bahagia menyambut ramadhan. Selain shalat malam, kegiatan buka bersama juga menjadi keistimewaan tersendiri di bulan ramadhan. Belum lagi kegiatan mudik dan hari raya. Maka  “barang siapa yang senang dengan datangnya bulan ramadhan maka haram jasadnya disentuh api neraka” al hadist.

Baca Juga:   Pancasila Perekat Keberagaman dan Perdamaian dari Merauke Sampai Sabang

Yang menjadi poin dari kegiatan ramadhan adalah orientasinya. Tujuan melaksanakan puasa adalah menjadi pribadi yang unggul. Kriteria unggul dalam kontek ramadhan adalah menjadi hamba yang bertaqwa.

Predikat taqwa merupakan predikat tinggi dalam pemahaman seorang yang beragama islam. Secara makna, taqwa dijelasakan dengan sangat baik. Yaitu menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya. Perintah bisa dilaksanakan semampunya tapi larangan harus dihindari secara sempurna.

Taqwa itu sendiri merupakan sebuah proses menjadi hamba yang taat. Setiap saat sepanjang hidup. Maka agama menggolongkan orang yang bertaqwa sebagai orang yang beruntung dikehidupan dunia saat ini dan akhirat nanti.

Baca Juga:   Bertemu Forum RT/RW Se-Jakarta Pusat, HNW : Ajak RT/RW Sukseskan Pemilu Jadi Pesta Demokrasi Rakyat

Kebahagiaan dan kesedihan biasanya bergantian, ada yang senang dengan datangnya bulan ramadhan. Dalam bulan yang sama juga sedih karena ramadhan akan usai. Kebahagiaan dan kesedihan itu merupakan tanda hati yang bertaqwa.

Seusai ramadhan, kita akan hidup dalam kehidupan yang normal, dimana tidak ada kewajiban seperti dibulan ramadhan. Namun perjalanan hidup selama sebelas bulan kedepan membutuhkan bekal taqwa. Agar mampu menjalani hidup dengan selamat.

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini