Home MPR RI

Ahmad Basarah Kecam Pemecatan Mahasiswa Muslim yang Ucapkan ‘’Selamat Jumat Agung

176
0

JAKARTA – Wakil Ketua MPR Ahmad Basarah menyayangkan Rektor Universitas Teuku Umar (UTU) Meulaboh Aceh Barat, Ishak Hasan, yang memecat dan menganggap murtad empat mahasiswa dari kepengurusan Dewan Perwakilan Mahasiswa UTU hanya karena mereka memosting flyer ucapan selamat memperingati Jumat Agung di akun resmi Instagram DPM UTU.

“Jika berita yang ditulis oleh portal itu benar, saya sangat menyayangkan dan mengecam pimpinan UTU Meulaboh yang menganggap keempat mahasiswa itu telah murtad hanya karena mereka memosting flyer ucapan selamat hari keagamaan tertentu. Seharusnya perbuatan keempat mahasiswa itu dikembalikan pada niat mereka. Apakah benar saat memosting flyer itu mereka berniat murtad?’’ tanya Ahmad Basarah di Jakarta, Senin (17/4/23).

Respon Ketua Fraksi PDI Perjuangan itu disampaikan menyusul pemberitaan di media massa bahwa jajaran rektorat UTU Meulaboh merasa panik setelah empat mahasiswanya memosting flyer Jumat Agung di akun resmi Instagram UTU, Senin (10/4/23). Dalam berita yang ditulis itu disebutkan, rektor segera memimpin rapat dengan Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) dan alumni UTU Meulaboh, lalu memutuskan memecat keempat mahasiswa itu dari kepengurusan DPM serta melakukan syahadat kembali atas mereka karena keempatnya sudah dianggap murtad secara perbuatan.

Baca Juga:   Segera Realisasikan UU PPRT, Perlindungan Hak PRT Mendesak Dilakukan

Keputusan rektor UTU Meulaboh ini menimbulkan kontroversi di tengah masyarakat. Sebuah video berjudul ‘’Posting Flyer Jumat Agung, Empat Mahasiswa di Aceh Dianggap Murtad dan Dipecat dari Organ Kemahasiswaan’’ beredar luas. Narator dalam video itu, Rizka Putri, menyayangkan pemecatan keempat mahasiswa itu yang dilakukan secara sepihak. Di dalamnya juga dikutip pendapat Koordinator Jaringan Islam Anti-diskriminasi (JIAD), Gus Aan Anshori, yang menegaskan mestinya keempat mahasiswa itu justru diapresiasi karena telah meneguhkan toleransi di tengah kebhinekaan Indonesia.

Menurut Ahmad Basarah, sangat berbahaya jika setiap elemen bangsa mudah menjatuhkan vonis kafir dan murtad kepada orang lain hanya berdasarkan tafsir mereka sendiri atas ajaran agama Islam. Contohnya adalah apa yang dilakukan Rektor UTU Meulaboh yang menganggap murtad empat mahasiswanya hanya gara-gara mereka memosting flyer ucapan selamat memperingati Jumat Agung.

‘’Apa dasar dalil mereka? Kata murtad itu ‘kan Bahasa Arab yang artinya kembali, yakni kembali kepada agama sebelumnya jika seseorang dulu bukan Muslim lalu masuk Islam. Sekarang, apakah benar keempat mahasiswa itu adalah muallaf lalu kembali ke ajaran agama sebelumnya. Saya yakin jika mereka Muslim sejak lahir, tidak akan menjadi kafir hanya gara-gara memosting sebuah flyer yang justru berisi pesan-pesan kedamaian,’’ tegas Ahmad Basarah.

Baca Juga:   Hadir di Jalan Sehat ‘Tajammu' 100 Tahun Gontor, HNW: Persaudaraan/Ukhuwah Adalah Misi Penting Gontor

Seharusnya, tegas Ketua DPP PDI Perjuangan itu, pimpinan UTU Meulaboh menilai apa yang dilakukan keempat mahasiswa itu dari niat masing-masing. ‘’Ada hadis Nabi Muhammad SAW yang menyatakan, ‘innamal a’malu bin-niyyati, sesungguhnya setiap perbuatan seseorang dinilai oleh Allah sesuai niatnya. Saya tak yakin niat keempat mahasiswa itu memosting flyer tersebut karena berniat ingin mengkompromikan aqidah agama mereka apalagi sampai menjadi murtad tetapi mereka hanya sedang menjalankan prinsip toleransi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara agar bangsa yang majemuk ini rukun dan damai,” tegas Ahmad Basarah.

Menurut Sekretaris Dewan Penasihat PP Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi) itu, dalam Islam dikenal ajaran bahwa hanya Allah sajalah Tuhan yang Maha Mengetahui isi hati setiap umat manusia. Karena itu, tidak selayaknya seorang Muslim menebak hati setiap orang lalu memberi label kafir atau murtad kepada sesama Muslim hanya karena Muslim yang dianggap kafir itu melakukan perbuatan yang tidak sejalan dengan tafsirnya atas sebuah ajaran Islam.

‘’Nabi Muhammad SAW sendiri yang menegaskan bahwa barangsiapa yang mengafirkan seorang Muslim dia sendiri telah kafir. Jadi, tradisi takfiri seperti yang dilakukan pimpinan UTU Meulaboh itu jelas melanggar ajaran Rasulullah. Cukup dulu ada perempuan bernama Hindun di Jakarta yang saat wafat tidak disalatkan oleh umat Islam hanya karena dia dianggap kafir mendukung calon gubernur tertentu,’’ tegas Ahmad Basarah.

Baca Juga:   Lestari Moerdijat: Perilaku Toleransi dan Kebersamaan di Tengah Pandemi Mesti Diapresiasi

Wakil Ketua Lakpesdam PBNU itu mengutip pidato Bung Karno pada peringatan Nuzulul Quran di Istana Negara pada 28 Maret 1959, yang menegaskan kembali bahwa semua nabi termasuk Nabi Isa AS harus diimani oleh umat Islam. Apa yang disampaikan Bung Karno itu juga sejalan dengan ayat-ayat Al-Quran yang diimani oleh umat Islam.

‘’Al-Quran, seperti ditegaskan oleh Bung Karno dalam pidato itu, menegaskan Nabi Ibrahim, Nabi Musa, dan Nabi Isa semuanya membawa ajaran tauhid seperti yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Ajaran tauhid inilah yang menjadi platform bersama semua agama, yang oleh Bung Karno diabadikan dalam sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa. Jadi, mari jaga toleransi, jangan mudah mengafir-ngafirkan orang lain apalagi sesama Muslim,’’ tegas Ahmad Basarah.

Ahmad Basarah berharap status keempat mahasiswa yang dipecat dari DPM UTU Meulaboh itu dikembalikan agar kehadiran mereka memberi pencerahan kepada semua pengurus DPM UTU Meulaboh tentang pentingnya toleransi di tengah kebhinekaan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini